Sejarah Monumen Kewedanaan Jasinga

Masa Transisi Pemerintahan Kabupaten Bogor Tahun 1047-1949

Berawal dari agresi militer Belanda pertama pada tanggal 21 juli 1947 hingga dilakukannya kembali agresi Militer Belanda kedua pada tanggal 19 desember 1948, kolonial Belanda yang memboncengi pasukan sekutu dengan sebutan SEAC ( South East Asia Command) menimbulkan suasana genting dan mencekam diwilayah jawa barat demikian juga yang terjadi di Kabupaten Bogor berbagai peristiwa menjadi momok yang menakutkan karena pasukan Kolonial Belanda beserta sekutunya terus melakukan intimidasi dan teror untuk dapat menguasai kota kota pemerintahan

Jawa Barat adalah salah satu yang menjadi target sasaran tentara kolonial Belanda untuk dikuasai, demikian juga pusat pemerintahan Kab. Bogor menjadi target utama untuk dikuasai sehingga berbagai upaya dilakukan terlebih lagi setelah Divisi Siliwangi Hijrah ke Jawa Tengah sebagai konsekwensi dari perjanjian Renville pada Bulan Januari 1948.

Upaya tentara Kolonial belanda terus dilakukan dengan cara memecah belah sehingga Kolonial belanda berhasil mendirikan Negara Tandingan yaitu Negara Pasundan.

Kolonial Belanda dengan Negara Pasundannya mencoba melakukan penculikan terhadap pejabat-pejabat diwilayah Bogor diantaranya adalah Residen Supakat, Bupati Hardjadiparta, sekretaria Muhamad Basir, Patih Ipik Gandamana, dan Wedana Bogor. R. Basrah Adiwinata.

Dan pada tanggal 4 mei 1947 Kolonial Belanda di Bogor mengadakan arak arakan dan upacara Proklamasi Kemerdekaan Negara Pasundan tepat di gedung K. M. V. J. BOGOR dan untuk membentuk Negara Pasundan Kolonial Belanda memberikan dukungan penuh kepada Soeria Kartalegawa beliau adalah mantan Bupati Garut (1929-1944) untuk mendirikan Partai Rakyat Pasundan (PRP) tepatnya pada tanggal 20 mei 1946.

Namun seiring waktu berjalan keberadaan Negara Pasundan dibawah Pimpinan Soeria Kartalegawa kurang mendapat respon yang baik dari Pihak belanda sehingga Kolonial Belanda mengadakan Konferensi Jawa Barat yang dipimpin oleh Recomba dan diberikan tampuk kepemimpinan Negara Pasundan kepada R. A. A. M. Wiranata Kusumah sebagai wakil Negara (Presiden)

Dalam kondisi yang mencekam maka pemerintahan RI berdasarkan intruksi dari Komando Brigade 1 Bataliyon Tirtayasa dan Residen Militer Mayor. dr. Erie Sudewo dan Wakil Gubernur Mr. Adil Wiranata memberikan intruksi untuk segera membentuk Pemerintahan Darurat di Kabupaten Bogor dan pada tanggal 20 Desember 1948 Ipik Gandamanah membentuk Pemerintahan Darurat Kabupaten Bogor di “JASINGA” Pendopo Eks- Kawedanaan Jasinga menjadi tempat berlangsungnya Pemerintahan Darurat Kabupaten Bogor.

Disinilah awal perjuangan Kabupaten Bogor pada masa transisi Ipik Gandamanah berjuang mempertahankan Pemerintahan Kabupaten Bogor dibantu didukung oleh berbagai komponen masyarakat Jasinga salah satunya yang terkenal Pemberani adalah Pasukan Ki Munding Leuweung dan sebelum akhirnya sempat berpindah ke Desa Malasari yang sekarang menjadi wilayah Kecamatan Nanggung Bogor Barat.

Hingga akhirnya Ipik gandamanah kembali Ke Kota Bogor dan memimpin Pemerintahan dari tahun 1940-1950..

Berikut nama nama Bupati Kab. Bogor

  1. R. Ipik Ganda manah tahun 1948-1950
  2. R. E. Abdoelah. Tahun 1950-1959
  3. Dr. Sumeru Sumadiharja (Bupati Plt) tahun 1960-1960
  4. Eem Kahfi tahun 1960-1960
  5. M M Kartadikarya 1961-1967
  6. Drs. Salaka Wiguna tahun 1967-1968
  7. Wisatya Sasmitha tahun 1968-1973
  8. Rd. Moch. Muklis tahun 1973-1976
  9. H. Ayip Rughbi tahun 1976-1983
  10. Hasan Wirahadi K. (Plt) tahun 1982-1983
  11. Sudrajat Naja Atmaja tahun 1983-1988
  12. H. Edi Yoso Martadipura tahun 1988-1993
  13. H. Agus Utara Efendi tahun 1993-1998/1998-2003/2003-2008
  14. Drs. H. Sumirat MM ( plt) Sept – Des 2009
  15. H. Rahmat Yasin tahun 2009-2013/2013-2018
  16. Dra. Hj. Nurhayanti (plt) tahun 2014-2018
  17. Hj. Ade Yasin SH. MH tahun 2014-2018.

Author: pvsubhansofi

Tinggalkan Balasan