Sejarah Golok Tarisi Dan Cina Jasinga

Adriaan Valckenier adalah Gubernur Jenderal VOC yang menjabat sejak tahun 1737 – 1741.

Kemudian pada tahun 1740 jumlah imigran Cina dan keturunannya (peranakan) yang bermukim di dalam benteng Batavia menembus angka 4 ribu orang. Sementara yang hidup di luar tembok jauh lebih besar, yakni mencapai 10 ribu orang. 

Akar permasalahannya populasi orang Tionghoa di Batavia meningkat pesat seiring lesunya perekonomian dunia (Greg Purcell, South East Asia Since 1800, 1965:14). Gelombang imigran dari Cina pun berdatangan ke Nusantara, termasuk membanjiri Batavia.

Pada tahun 1740 Adriaan melakukan sayembara dengan menjanjikan hadiah besar untuk setiap kepala orang Cina yang berhasil dipancung (Hembing Wijayakusuma, Pembantaian Massal 1740: Tragedi Berdarah Angke, 2005:103)

Dengan adanya sayembara tersebut tahun 1740 berakibat ratusan orang Cina ditangkap dan disembelih di halaman Balai Kota Batavia yang sekarang Jakarta, termasuk para tahanan dan sebagian yang lainnya.

Orang Cina di Tarisi-Jasinga adalah sebagian orang cina yang menghindari peristiwa pembunuhan massal orang-orang Cina oleh VOC tahun 1740

Orang Cina di Tarisi – Jasinga sebagian besar adalah keluarga besar Cheng Lin mereka dimulai ketika leluhur mereka, Cheng Lin, datang ke jasinga 1740.

Para pengrajin yang tersebar di kampung Tarisi seluruhnya merupakan keturunan Tan Cheng Lim. Sementara keahlian sebagai pandai besi bermula dari para kakek buyut mereka sejak ratusan tahun silam.

Pembeli tidak hanya dari wilayah sekitar saja namun kebanyakan dari luar daerah, seperti Bekasi, Tangerang, sampai Semarang.

Golok buatan keluarga besar Cheng Lim memang telah dikenal sejak lama. Selain rapi buatannya, ketajaman dan kekuatan bilahnya menjadi kebanggaan para jawara di masa lalu, terutama para jawara di sekitar.

Jasinga. Konon, golok Tarisi juga ampuh mengalahkan ilmu kebal macam apa pun. “Dulu sih, tak ada elmu kalis yang nggak bisa ditembus golok Tarisi,” kata Centang.

Oleh pemuka setempat keluarga Cheng Lin diberi sebidang tanah yang kini menjadi Kampung Tarisi.

Di kampung tarisi berdiri rumah ibadah agama Khonghucu, Khong Miao Lithang Makin Tarisi, dan agama Khonghucu di legalkan pada masa Presiden Abdurrahman Wahidin.

Sumber:

  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Daftar_Gubernur-Jenderal_Hindia_Belanda
  • https://tirto.id/13-hari-pembantaian-orang-cina-di-jakarta-cx2Y

Author: admin

Tinggalkan Balasan