Negara SingaPura Dan Kecamatan JaSinga (Jayasinghapura)

Spread the love :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Singapura adalah Negara di Ujung Semenanjung Melayu sedangkan Jasinga adalah Kecamatan di Pulau Jawa bagian barat Indonesia

Singapura dulunya dijuluki sebagai Pu Luo Chang. Dalam bahasa China, Pu Luo Chang berarti Pulau di Ujung. Julukan ini diberikan oleh seorang musafir asal China pada abad ke-3. Hal ini karena letak Singapura yang berada di ujung selatan Semenanjung Melayu.

Sebutan ini berubah menjadi Temasek pada abad ke-13. Dalam bahasa Jawa kuno, Temasek diartikan sebagai Kota Laut. Kata Temasek datang dari bahasa Melayu ‘Tasek’ yang berarti ‘Danau’.

Nama Singapura mulai digunakan pada abad ke-14. Kala itu, masyarakat menamai Singapura dengan menggunakan bahasa Sanskerta. Berasal dari penggabungan kata ‘Simha’ yang berarti ‘Singa’ dan kata ‘Pura’ yang diartikan sebagai ‘Kota’, Singapura memiliki arti Kota Singa. Sedangkan Jasinga berasal dari kata Jayasinghapura yang merupakan ibu kota Kerajaan Tarumanegara dengan Raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Tarumanegara yaitu Jayasingawarman (358-382 M).

Pada 397 M, Purnawarman raja ke -3 Tarumanegara memindahkan pusat kerajaan dari Jayasinghapura ke Sundapura (dekat Bekasi) yang tidak jauh dari pesisir. Ibukota lama, dikutip dari Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah Panitia Wangsakerta Cirebon (2005) karya Ayatrohaedi, berlokasi di puncak perbukitan Jasinga, sebelah barat Bogor (hlm. 57).

Kemunculan kata Singa dalam nama Singapura berasal dari sebuah legenda. Konon, Singapura merupakan kota yang didirikan seorang pangeran Sumatera yang berasal dari Palembang. Pangeran tersebut bernama Sang Nila Utama. Dalam penglihatannya, ia melihat seekor hewan misterius di kejauhan. Hewan misterius tersebut ditengarai sebagai seekor singa. Menganggap sebagai simbol keberuntungan, Sang Nila Utama pun mendirikan kota di tanah Singapura berdasarkan penglihatan yang ia dapatkan. Kota tersebut kemudian berdiri menjadi sebuah negara.

Sedangkan nama Jasinga menurut legenda dari Nini Sumarmah di negeri Sunda wilayah bagian barat hidup seorang pembesar yang bernama: Ki Mundinglaya yang mempunyai lima orang putra yaitu:

  1. Wira Kosa
  2. Wira Dana
  3. Wira Danu
  4. Wira Singa
  5. Wira Ajun

Kemudian Ki Mundinglaya beserta lima orang putranya berperang melawan Banten dan akhirnya kalah serta banyak anak buahnya yang mati bahkan alat-alat perang dan bendera panji di sita sebagai rampasan perang.

Ki Mundinglaya dan lima orang putranya beserta sisa pasukannya kembali ke negeri Sunda dan mereka pun akhirnya berpencar membuat pemukiman baru bahkan ada pula yang melarikan diri ke daerah Sumedang dan Cirebon.

  1. Wira Kosa, lari dan menetap di sebelah timur dan membuat pemukiman baru yang bernama Sipak.
  2. Wira Dana, lari ke daerah Caruban (Cirebon) dan menetap di sana.
  3. Wira Danu, lari ke daerah Sumedang dan menetap di sana.
  4. Wira Singa dan ayahnya Ki Mundinglaya ke daerah barat dan membuka pemukiman baru yang di beri nama Jasinga.
  5. Wira Ajun ke sebelah utara dan membuat pemukiman baru yang bernama Setu. (Sumber: Kalakay Jasinga, 17 November 2009)

Meski telah berganti nama menjadi Singapura, negara yang sering menjadi tempat transit ini masih sempat berganti nama. Misalnya saja saat periode pendudukan Jepang pada Perang Dunia II, yaitu tahun 1942-1945, Singapura berubah nama menjadi Synonan-to yang berarti ‘Light of the South’ atau cahaya dari selatan. Selepas pendudukan Jepang, Synonan-to kembali menjadi Singapura sampai saat ini.

Nama Jasinga ada perubahan kata dari Jayasinghapura menjadi Jasinga, seperti halnya Jayakarta menjadi Jakarta. Dan yang menarik dari Jasinga adalah terdapat banyaknya batu nisan kuburan tua

Author: admin

Tinggalkan Balasan