Jasinga.com

Jasinga Angker 5 Ci Sungai Misterius

Jasinga adalah wilayah bagian barat di Kabupaten Bogor, berbatasan dengan Banten bagian selatan. Kali ini Jasinga.com akan Mengulas tempat Angker yang ada di Jasinga:

1.Cidangiang

Lokasi ini berada dekat TPU (Tempat Pemakaman Umum), penjabaran nama Cidangiang berasal dari kata Cai DangHyang jika diurai menurut bahasa sunda Ci = Cai = Air /Air Sungai, sedangkan Dang Hyang dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Roh Pemelihara dan Pelindung. Maksud dari Hyang adalah Roh atau sesuatu yang ghaib. Warga Jasinga akan mendapat isyarat 1 hari sebelumnya berupa suara lolongan atau gaungan singa tengah malam jika akan terjadi sebuah bencana, seperti bencana banjir Cigowong, Kebakaran Pasar Jasinga dan bencana lainnya.

2.Cidurian

Air sungai cidurian Air yang berhulu dari Gunung Halimun Salak dan bermuara di Tanara Banten ini masih menjadi misteri. dikutip dari Kalakay Jasinga yang bersumber dari Almarhum Aki Soleh Kampung Cisonggom tahun 2006 kenapa di sebut Cidurian karena adanya pertarungan seorang jawara yang sakti ilmunya dengan santri, Aki Soleh mengatakan bahwa Syiar Islam yang dibawa oleh ulama dan santri dari Banten dan Melayu (Kebayuran) untuk mengislamkan orang pribumi di pedalaman Banten ketika itu masih ada beberapa orang yang menentang ajaran islam karena dianggapnya sebagai agama baru. Tersebutlah orang sakti atau jawara yang tinggal di pinggiran Sungai Cimatang. Dia sangat terkenal dengan kesaktiannya yang berilmu tinggi sehingga sangat sulit untuk ditaklukkan. Sang jawara pun menantang beberapa santri untuk bertanding dengannya. Salah satu santri yang berasal dari Melayu (Kebayuran) menggunakan sebuah batang pohon yang berduri (pohon dadap cangkring dan cucuk kawung/kiray) yang tumbuh di tepian sungai cimatang. Entah dari mana asalnya ide tersebut, pohon yang berduri tersebut digunakan olehnya dengan maksud untuk mencari kelemahan kekuatan ilmu sang jawara tersebut. Kemudian jawara tersebut pun mengalami kekalahan setelah bertarung dengan santri santri dari Melayu hingga sang jawara pun tewas dengan banyak duri di tubuhnya. Jenazah sang jawara pun pada akhirnya dihanyutkan ke Sungai Cimatang. Sungai Cimatang setelah peristiwa itu dinamakan oleh penduduk setempat menjadi Sungai Cidurian. Di Sungai Cidurian ada sebuah jembatan besar menuju arah Tiga Raksa, di jembatan cidurian jika melintas tengah malam ada warga yang terkadang diganggu dengan penampakan, seperti keterangan dari salah satu warga saat melintas jembatan cidurian pernah melihat sosok wanita cantik, kemudian warga menyapa sosok wanita itu dengan dan membalas sapaan warga tapi suara dari sosok wanita itu memiliki suara mendengung orang sunda bilang suaranya ngirung seperti orang sumbing, setelah melintasi jembatan itu sosok wanita cantik itu menghilang.

3. Cikeam atau Cikiam

begitulah pengucapan orang Jasinga. Cikiam ini sumber mata airnya dari Gunung Pangradin. Menurut sejarahwan dan budayawan jasinga Kang Kurniawan Rahman, Cikeam berasal dari kata Ci Qiyam jika dijabarkan Ci= Cai/Air/Air Sungai Qiyam mengadopsi bahasa arab yang artinya Berdiri/mendirikan atau beribadah seperti halnya qiyamul lail (ibadah/sholat tengah malam), Ci Qiyam artinya Air Untuk mendirikan ibadah sholat. Seiring dengan perubahan pelafan dari waktu ke waktu menjadi Cikiam. Maka wajar saja jika di Cikiam berdiri sebuah Masjid disamping jembatan penghubung menuju arah Gor Jasinga yang dulu Pasar Jasinga.

4. Cikarang

dari namanya sudah jelas memang tempat ini penuh dengan karang, dari sebagian warga bahwa di cikirang ada sebuah lubang atau lorong di bawah air. tapi kebenarannya belum bisa di pastikan karena belum pernah ada yang membuktikan secara nyata. karena arus sungainya yang begitu deras menyebabkan sulitnya untuk meneliti langsung, hempasan arus sungainya langsung menerpa bagian lubang yang diyakini sebagian orang terdapat lorong di dalam air sungai tersebut.

5. Cikoroya

nama tempat sungai cikroya masih menjadi misteri juga karena di sungai ini tidak ada pohon kroya. melain ada pohon waru. namun jika di sandingkan dalam bahasa Kurdi ada kemiripan nama koroya yang artinya Pentas/Teater/Atraksi. Keunik Cikoroya adalah di tengah-tengah sungai terdapat hamparan batu sedimen atau lebih dikenal batu cadas. hamparan batu sedimen yang memiliki tekstur dan warna yang indah seperti panggung hiasan karena batu tersebut berada di tengah-tengah sungai, jika air sungai meluap maka batu cadas tersebut akan tertutup. batu cadas tersebut yang dikelilingi air sungai seperti panggung untuk pertunjukan dan jka ingin batu cadas harus melintasi sungai dulu karena letaknya ada di tengah sungai layaknya pulau.

Lewat ke baris perkakas