Jasinga, Leuwiliang dan Ciampea Memiliki Potensi Ekowisata



Di Kutip dari Hallobogor.com,  Jasinga- Wilayah barat Kabupaten Bogor, seperti Jasinga, Leuwiliang, Ciampea dan sekitarnya memiliki potensi ekowisata asli yang belum tergarap dengan baik.
Ini diungkapkan peneliti sekaligus Guru Besar IPB di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Prof DR. E.K.S. Harini Muntasib.

“Saya melakukan penelitian prioritas di Kabupaten Bogor, wilayah yang cukup potensial dikembangkan ekowisata asli adalah Barat, disana ada banyak terdapat situs dan goa-goa yang menarik wisatawan,” kata Prof Harini dalam dialog dengan wartawan di Kampus IPB Baranangsiang, Kamis.

Dikatakannya, terdapat tiga mulut goa di wilayah Barat Kabupaten Bogor yang bisa dikembangkan menjadi ekowisata asli yang akan jauh lebih menarik dari pada Puncak dan sekitarnya.

Ia menjelaskan, konsep ekowisata merupakan pengelolaan kawasan wisata secara alami, dimana masyarakat lokal dilibatkan dan ikut merasakan manfaat dari kegiatan wisata setempat.

“Masyarakat adalah subjek dari ekowisata, bukan objek. Konsep ekowisata ini menjual program atau paket wisatanya, apa aja namanya, masyarakat ikut berperan dalam perencanaan setiap tahapan pengembangannya,” ujar Prof Harini seperti dikutip www.antaranews.com.

Ia mengatakan, Indonesia memiliki keunggulan pemadangan alamnya dilihat dari titik mana saja. Termasuk di Puncak, Kabupaten Bogor, tetapi sayangnya pemadangan itu sudah terhalang oleh pembangunan hotel dan warung-warung.

“Di Puncak sudah bukan ekowisata lagi, tetapi wisata buatan,” kata Prof Harini.

Prof Harini menyayangkan Pemerintah Daerah setempat belum tertarik untuk mengembangkan ekowisata alami, sehingga potensi yang ada jadi terabaikan. Kondisi ini salah satunya dikarenakan, orang yang memegang Dinas Pariwisata bukanlah orang yang benar-benar memahami konsep wisata dan bagaimana untuk mengembangkannya secara terpadu.

“Padahal sudah ada Peraturan Menteri Nomor 33 Tahun 2009 tentang pedoman pengembangan ekowisata di daerah yaitu adanya tim koordinasi ekowisata provinsi dan tim koordinasi ekowisata kabupaten/kota yang merupakan wadah koordinasi dan komunikasi antarpelaku ekowisata di daerahnya,” jelas Prof Harini.

Menurutnya, jika pemerintah daerah dapat menjadi fasilitator dalam mengembangkan ekowisata alami, keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tetapi terjaganya ekosistem serta masyarakat mendapatkan manfaat dari sektor ekonomi yang berkembang.
Previous
Next Post »
Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *